Cerpen Rei ![]()
Rei berjalan cepat , jam ditangan sudah menunjukan pukul 17.45. Itu artinya tinggal 15 menit lagi waktunya untuk bertemu dia. Jarak antara tempatnya dengan tempat bertemu memang tidak terlalu jauh hanya saja untuk berjalan dari kosan hingga jalan raya lumayan menghabiskan waktu yang tersisa hanya 15 menit.
Setelah sampai di sisi jalan raya, kendaraan umum pun dengan sigap mengantarnya ketempat tujuan. Hujan tiba-tiba turun, walau hanya gerimis tapi ini sedikit membuat hati Rei tidak tenang ditambah kondisi perjalanan yang macet disekitar factory outlet semakin menghabiskan waktu Rei.
Akhirnya 17:19 sampai ditempat tujuan. Ah hampir 34 menit perjalanan yang seharusnya ditempuh hanya15 menitSesampainya disana hujan sudah cukup mengguyur deras. Rei diam sejenak kemudian dia memutuskan untuk kembali naik angkot dan menunggu di Indomaret dekat kosan dia. Selain tempat berteduhnya yang cukup luas dia berpikir resiko terburuknya adalah batal keluar untuk makan ditempat yang sudah direncanakan karena hujan semakin deras. Karena di sekitar indomaret banyak tempat makan bisa saja menjadi alternative pilihan.
“ Kamu masih lama ga? Re nunggu dpn indmart aj ya “ sms Rei untuk Dia.
Ketika angkot beranjak untuk memulai perjalanan, dari jendela Rei melihat sosoknya seketika itu pun Rei memutuskan untuk turun dari angkot. Ketika turun, Rei melihat sekeliling tidak ada dia.
“ Kamu dimana? Basah ah. 17:24
“ Kamu yang dimana? “ 17 :24, Rei kembali menunggu tak jauh dari pangkalan ojek.
“ Kamu belum kesini ya? Re udah khujanan. Zz “ 17:25 , Rei merasa kebingungan apakah Dia sudah berangkat apa belum. Akhirnya Rei memutuskan untuk kembali naik angkot dan kembali pada tujuan awal untuk menunggu di indomaret. Namun perkiraan Rei ternyata salah baru dua menit angkot berjalan tiba-tiba sms dia menghampiri hp Rei. “ Apaan Tama di bank mandiri. Udah basah ni celana “ 17:28
Rei kebingungan, ternyata dia terlalu bodoh untuk mengambil sebuah keputusan. Seketika pun Rei turun dari angkot, beberapa detik dia sempat kebingungan , untuk berjalan kedepan cukup memakan waktu. Angkot jarang, ojek tak tahu harus bagaimana mengenalinya karena jauh dari pangkalan ojek. Ketika seorang bapak lewat didepannya dengan memakai jas hujan, Rei beranikan untuk memanggilnya dan benar saja . Syukurlah dia sedikit lega.
“ Bank mandiri mana ? 17:28
“ Bawah, setelah yng ke arah cisi. Lagian kan janjinya jam 5 “ 17.30
“ Bentar tadi tuh Re dsebrang “
Akhirnya sampai dan bertemu dengannya.
Dalam keadaan dingin, ditemani rintikan hujan dan sikapnya yang dingin.
Marah? Pasti.
Duduk dipelataran Bank Mandiri, Rei memulai percakapan , “ Tadi tuh gerimisnya baru sampai disana “ sambil menunjuk ke arah jalan raya.
Dia? Hanya “ hmm “ tanpa menoleh sedikit pun.
Rei diam, tak pandai dia mencairkan suasana. Beberapa waktu hanya terdiam, Rei tak tahu harus menyapa dengan kata apa lagi. Rei sibuk dengan lamunannya ketika Rei menoleh kearahnya, dia pun sibuk dengan pegangannya.
Rei terus diam, tanpa coba mencairkan suasana. Rasanya dia cukup perih . Tak sepatah kata pun terlontar olehnya untuk menanyakan keadaan Rei. Dalam harapnya dia akan menanyakan kapan Rei datang kekota ini? Ya, memang tak sepantasnya kita berharap pada manusia. Dan kita tidak bisa memaksakan orang lain berlaku seperti apa yang kita inginkan.
Harusnya memang sudah terbiasa dengan sikapnya yang dingin, cuek. Tapi hati Rei hanya manusia biasa dia hanya bisa menahan tangisnya. Entah apa yang dirasanya. Ya, dia tau ini salahnya. Harusnya tadi dia bersabar menunggu ketika sms yang masuk agak lama, tidak berpikir untuk naik angkot dan tidak mengambil keputusan secara sepihak.
“ Yaudah kita pulang aja “ Ucap Rei membelah keheningan.
“ hmm, iyaa “
Dia bangkit dari duduknya, menuju motornya.
“ Langsung pulang aja? “ Tanya Rei kemudian.
“ Iya gimana lagi, ni hujannya bakalan lama “ jawabnya, sambil memarkirkan motornya.
“ Iya atuh, tapi tunggu dulu sebentar hujannya makin deras “
Dia tak menjawab tapi dari sikapnya dia sependapat dengan Rei. Rei yang masih berdiri di hadapannya tak luput memandang wajahnya yang sebagian tertupi oleh helm. Terlihat raut kekesalan, kekecewaan, marah. Ya itu hanya dugaan Rei dengan melihat mimik diwajahnya.
Hujan kembali reda, keadaan ini dimanfaatkan untuk pulang. Rei berjalan duluan, didepan gerbang “ Hati-hati ya ! maaf “ ucap Rei sambil menyentuh pundaknya.
“ Kamu mau bareng ga? Tapi sama aja kehujanan juga “
“ Iyaa ga usah, aku jalan aja. “
Mereka berpisah.
Dibawah rintikan hujan yang terus mengguyurnya, Rei tak kuasa menahan tangis, bukan marah, bukan pula karena batal makan diluar. Menangis karena ucapan jiwa yang tak terluapkan.
Menangisi ketidak siapannya kembali menjauh dengannya. Memang ini bukan yang pertama namun ketika dia kembali tenggelam dengan kesibukannya itu artinya waktu untuk Rei tak terbagi dengan jelas. Mungkin minggu depan dia akan menghubunginya? Tidak bisa dipastikan. Mungkin saja bulan depan, dua bulan kedepan, bahkan tiga kebulan kedepan.
Menangis karena keheningan yang terjalin, menangisi sikap nya yang salah, menangis karena telah membuat kesalahan yang membuatnya diperlakukan seperti itu. Menangis karena tak sempat menjelaskan apa-apa. Bertemu tanpa ada kata yang terlontar yang menanyakan keadaan masing-masing. Menangis karena sikap dinginnya yang mencekik kata.![]()
Kurang lebih 15 menit tanpa kata yang terlontar, diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Mungkin dia marah. Pikir Rei.
Haruskah semarah itu?
Ya, memang itu sikapnya. Menunggu lama, celana sudah basah, kamu tak kunjung tiba Rei. Alasan itu sudah cukup untuk mendiamkanmu Rei.
Benarkah ?
Kamar jadi saksi meluapnya tangisan. Setiap kali Rei kecewa dengan sikap dia, Rei merasa sangat terpuruk dan menyalahi dirinya tentang apa yang telah dilakukannya selama ini, terus membayanginya. Rei terlalu sayang padanya. Untuk orang seperti itu Rei? Untuk alasan demikian dia hanya berminat bermain bbnya dibanding memulai pembicaraan dengan mu.
Sekali lagi pikiran Rei menolak perihal itu. Ya itu memang sikapnya dia memang seperti itu cuek, dingin dan mungkin dia sangat marah. Sanggah Rei dalam hati.
Dalam tangisnya. Tiba-tiba hpnya berdering menandakan sms masuk .
“ sorry y mungkin lain kali “
Tama ? emm. Rei terdiam tangisnya terhenti dan hatinya kembali tenang. Its magic . hanya dengan kalimat itu Rei kembali tenang, tidak sekesal beberapa detik yang lalu sebelum sms masuk. Sebegitu sayang kah Rei padanya? Hingga kata-kata maaf pun kembali meluluhkan hatinya.
“ iyaa. Maaf juga udah nunggu lama “ jawab Rei.
“ Ya “
“ Jangan lupa makan juga ya”
“ Udah males “ Tama.
“ Maaf, jangan nyksa dri kamu. Apalgi td khjanan takutnya malah sakit. “.
Sunyi senyap kembali.
selesai
cupcupmuuaah![]()
No comments:
Post a Comment